fatma19

best friends forever..

Mutiara di Hati Nila

Libur telah tiba… libur telah tiba… horee.. horee.. horee..betapa bahagianya, aku berdendang dalam hati. Akhirnya hari yang telah lama kunanti datang juga. Hari yang pastinya akan sangat menyenangkan. Hari yang akan penuh dengan petualangan. Apalagi kalau bukan hari libur. Tetapi, yang membuat istimewa adalah tempat yang akan aku kunjungi. Liburan kali ini aku akan pergi ke rumah nenek di desa. Aku sudah tidak sabar ingin melihat pemandangan yang indah, suara kicauan burung di pagi hari, hembusan angin yang lembut, udara yang sejuk serta suasana yang nyaman dan damai yang tentunya tidak aku temui di Ibukota saat ini.

Aku siswi dari salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Jakarta. ini adalah liburan kenaikan kelasku yang kedua. Kebahagianku bukan hanya karena aku bisa naik kelas tetapi, kali ini aku berhasil meraih peringkat pertama di kelas sekaligus mendapatkan juara umum pertama. Kebahagiaanku lengkap sudah ketika aku bisa mengantongi izin dari kedua orang tuaku untuk pergi liburan sendiri ke rumah nenek. Ini adalah kali pertama mereka mengijinkan. Hal ini karena mereka sudah berjanji, jika aku berhasil meraih juara umum pertama maka aku akan pergi ke rumah nenek sendiri. Selama ini aku sulit mendapat ijin pergi sendirian, maklum statusku sebagai anak tunggal membuat pengawasan lebih dari anak biasanya. Terakhir ke rumah nenek saat liburan kenaikan kelas waktu aku masih duduk di kelas X Sekolah Menengah Pertama.

Mutiara Karnila, itulah namaku. Orang-orang biasa memanggilku dengan nama Nila. Nama Mutiara diberikan oleh nenek. Kata Ayah, nenek sangat menyukai nama itu. Sedangkan nama Nila diberikan oleh ayahku. Ayah bilang nama itu melambangkan kesuksesan. Maklum ketika aku lahir sampai sekarang usaha budidaya ikan nila ayah berkembang pesat. Sehingga, nama Nila diberikan agar kelak aku bisa menjadi orang yang sukses. Ibu ku adalah pemilik sebuah rumah makan di Ibukota sedangkan ayah sampai sekarang masih bisa dikatakan sebagai pembudidaya ikan nila yang cukup sukses di Kota Jakarta. Aku sangat suka petualangan, aku suka hal-hal baru, dan aku pecinta alam.

Akhirnya hari ini tiba juga. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumah nenek. Barang-barang sudah aku persiapkan malam harinya. Aku akan pergi kerumah nenek menggunakan kereta api. Makanan dan minuman untuk bekal di perjalanan juga sudah aku persiapkan. Aku sudah tidak sabar untuk tiba di rumah nenek. Kereta yang akan aku naiki berangkat pukul tujuh pagi. Ayah dan ibu mengantarku sampai ke stasiun. Ibu sempat menangis, maklum ini adalah perpisahan terlama kami yaitu selama dua minggu. Rasa bahagia dan tak sabar mengiringi perjalanan ku.

Selama beberapa jam di perjalanan, akhirnya aku tiba di salah satu stasiun yang letaknya tidak jauh dari desa tempat tinggal nenek. Dari stasiun aku berangkat ke rumah nenek dengan menggunakan angkutan umum. Beberapa menit di perjalanan, sampailah aku di rumah nenek. Rumah yang sangat asri, dipenuhi pepohonan, udara yang sejuk, dan suasana yang sangat nyaman jauh dari keramaian. Dari dalam rumah, keluarlah nenek yang langsung berjalan cepat kearahku. Beliau memelukku sangat erat, melepas semua kerinduan yang sangat terasa. Nenek sampai meneteskan air mata. Nenek langsung mengajakku masuk ke dalam rumah.

Nenek merangkulku sembari menunjukkan kamar yang akan aku tempati selama liburan ini. Aku sangat terpesona melihat foto-foto nenek dan foto-foto keluarga kami yang tergantung rapi di dinding. Namun, ada salah satu foto yang membuatku penasaran, di foto itu tampak nenek berdua bersama seorang perempuan yang tidak pernah aku lihat di antara keluarga nenek yang aku tahu. Perempuan itu terlihat sangat bahagia, nenek juga seperti itu.

“ Nek, itu nenek bersama siapa?” aku menunjuk kearah foto itu.

“ Dia adalah sahabat nenek, saudara nenek. Namanya Tiara.” Entah kenapa nenek terlihat begitu sedih.

Nenek menyuruhku untuk beristirahat karena sudah malam. Aku kemudian memasuki kamar dan segera berbaring ke tempat tidur sementara nenek juga masuk ke dalam kamarnya. Aku masih terbayang wajah perempuan yang kata nenek namanya Tiara itu. Aku merasa pernah bertemu dengannya. Tapi aku tidak tau dimana. Kesunyian dan resa penat mmenemani mataku yang sudah letih.

Langit tampak sangat cerah, aku terbangun dari tidurku. Seperti ada yang mendorongku untuk berjalan, entah kemana arahnya. Aku hanya mengikuti langkah kakiku. Aku melihat ke arah kalung yang aku gunakan, entah kenapa kalungku bersinar. Aku sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Dalam hati aku bertanya tempat apa ini. Aku sadar, tenyata aku berada di sebuah bukit yang sangat indah. Betapa terkejutnya aku ketika aku juga menyadari bahwa tempat itu jauh dari rumah nenek. Seketika itu aku berteriak memanggil nama nenek. Dan ternyata itu semua hanya mimpi. Aku kemudian melihat handphone, ternyata hari sudah pagi.

Nenek mengajakku untuk sarapan. Nenek menyiapkan masakan kesukaanku yaitu ayam goreng. Tidak dapat aku pungkiri bahwa ayam goreng buatan nenek sangat enak dan gurih. Sembari menikmati makanan, aku masih memikirkan mimpiku tadi malam. Aku sangat penasaran, apakah tempat yang aku lihat itu benar-benar ada. Aku berpikir, aku akan mencari tempat itu dan mungkin ini akan menjadi petualangan yang sangat menyenangkan.

Aku pergi berjalalan-jalan sendiri. Sebenarnya nenek tidak mengijinkan, namun setelah meyakinkan nenek bahwa aku tidak akan pergi jauh akhirnya aku di ijinkan pergi sendirian. Aku terus berjalan menyusuri jalan-jalan yang aku lewati dalam mimpi itu. Aku juga tidak tau mengapa aku masih mengingatnya dengan jelas. Rasanya aku tidak percaya, aku sampai di bukit yang persis seperti apa yang ada di dalam mimpiku. Aku berdiri tepat di tempat aku berdiri di dalam mimpiku semalam. Entah apa yang sedang terjadi, tetapi aku yakin ini pasti ada maksudnya.

Aku berjalan mendekati sebuah pohon tua yang masih berdiri kokoh. Tanpa sengaja aku tersandung oleh sebuah batu yang tepat berada di kaki pohon itu. Setelah aku melihat dengan seksama ternyata ada sesuatu di bawah batu itu. Entah rasa penasaran apa yang membuatku berani untuk mengangkat tumpukan batu di bawah pohon tua itu. Dan astaga, aku sangat terkejut melihat ada sebuah kotak yang terbuat dari kayu yang terpendam di tanah itu. Rasa penasaranku tambah menjadi-jadi ketika aku tau bahwa kotak itu bisa aku buka. Rasanya aku tidak percaya, aku menemukan sebuah buku harian di dalam kotak itu. Dalam hati aku berkata, sebenarnaya ada apa ini?, ini punya siapa?, seribu pertanyaan mengitari otakku. Aku mengambil buku itu sambil membersihkan tanah-tanah yang berada di sampulnya. Aku sangat ingin membaca buku harian itu, tetapi aku takut. Aku takut kalau itu sengaja ditimbun oleh pemiliknya sebagai rahasia.

Aku merasa harus membawa buku itu kembali ke rumah nenek. Kalau aku menguburnya kembali pasti buku itu akan rusak. Aku tidak memberi tau nenek soal apa yang telah aku temukan. Setelah makan malam, aku masuk ke kamar dan mengmbil buku harian itu. Aku beranikan diri untuk membuka buku itu. Halaman pertama buku itu tertulis dengan tinta merah, aku sedikit tidak mengerti maksud dari tulisan itu, selain karena kurang jelas ejaan dari tulisan itu pun tidak seperti ejaan zaman sekarang. Aku mencoba menulis kembali dengan bahasa yang aku pahami dari tulisan itu.

 

Namaku Mutiara,

Aku menulis ini untuk dia yang ingin aku temui di kehidupan ku yang abadi..

Aku membaca tiap tulisan yang tetulis dengan rapi dalam buku harian ini. Aku tertawa membaca cerita-cerita lucu dan konyol. Meski ada yang tidak aku mengerti, namun benang merah dari tiap halaman bisa aku mengerti. Ini seperti catatan harian seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Ada yang dia tulis dengan tinta merah, ada tinta hitam juga. Sepertinya orang yang menulis ini menunjukkan saat-saat yang sangat mengesankan dengan warna merah. Seperti saat pertemuan pertamnya dengan seorang cowok yang kemudian menjadi sahabatnya.

Aku bertemu denganmu tepat di depan kelas, ternyata kamu adalah murid pindahan dari sekolah lain.

Aku sekelas denganmu, kamu duduk di sampingku..

Keesokan harinya, aku bertemu lagi denganmu. Aku sangat tekejut..

Bukan pertemuan yang membuatku terkejut, tetapi mengapa bisa kita bertemu di tempat yang aku pikir hanya aku yang tau..

Bukit tempat persembunyianku.. kusebut bukit misteri..

Semenjak saat itu kita menjadi teman dan kemudian sahabat..

Aku terus membaca lembar demi lembar tulisan di buku itu. Sampai aku tersadar, aku tertawa, dan aku menangis. Sebuah kisah yang sangat menyenangkan dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Bahagia, tertawa, serta menangis karena cemburu. Sebuah kisah dari rasa yang tersembunyi untuk sahabat. Rasa yang dia sebut cinta, yang tidak ingin dia ungkapkan. Keesokan harinya, aku membaca kembali lembaran buku harian milik orang yang bernama Mutiara itu. Air mata membasahi pipiku, ketika tulisan dengan tinta merah kubaca. Aku mencoba mengerti dengan bahasaku sendiri,

Aku sakit Di,,,

Aku ingin cerita padamu.. tapi, aku belum siap..

Hari ini, hari kelulusan kita, bagaimana mungkin aku memberi tau mu tentang penyakit ku.. Kamu terlihat sangat bahagia, ketika kamu bercerita..

Kamu akan pindah ke Korea dan kuliah disana.. ayahmu akan melanjutkan usaha di sana, kamu dan keluargamu harus ikut..

Aku turut bahagia waktu itu Di,, dalam hati aku hancur..

Aku bingung, akan aku ceritakan kemana sakit ku ini..aku sakit Di,,

Kanker otak stadium akhir..

Rasanya aku terbawa dalam tulisan itu, rasanya aku tidak sanggup lagi membaca tiap lembar berikutnya dari buku harian itu. Namun, rasa penasaran membuatku ingin mengetahui akhir dari cerita gadis bernama Mutiara itu. Ku buka kembali buku harian itu, ku baca tiap lembarnya. Sampai pada lembar yang membuat air mataku tumpah kembali, sungguh sangat menyedihkan.

Hari ini, aku mengantarmu ke terminal..

Kamu berjanji akan menemuiku tiga tahun lagi, setelah kamu menjadi sarjana..

Aku akan menunggumu di bukit misteri kita.. entah kenapa aku merasa, kamu juga merasakan apa yang aku rasakan..

Kamu memberikanku sebuah kalung yang bandulnya berbentuk hati…

Kamu mengatakan, agar aku menaruh foto orang yang sangat berarti di dalam bandul itu, orang yang membuatku jatuh cinta, dan orang yang mampu memberikan cerita yang indah untukku.

Apakah sedikitpun kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat itu Di,,aku tetap tersenyum mendengar apa yang kamu katakan..

Kamu juga bilang, kamu memegang kunci bandul itu dan akan membukanya saat kita bertemu nanti, karena kamu tidak ingin menjadi orang kedua yang tau siapa orang spesial itu..

Air mata ku mengiringi kepergianmu Di,, aku bukan takut suatu saat kamu tau aku menyukaimu. Namun, yang aku sangat takuti adalah takdir tidak mempertemukan kita kembali.

 

            Air mata tak kuasa ku bending membaca tulisan ini. Aku ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Mutiara. Aku semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya Mutiara. Ku menghela nafas sambil mengusap air mata di leherku. Aku sangat terkejut ketika aku menyadari, aku mempunyai kalung yang persis sama dengan apa yang diceritakan di buku harian Mutiara. Kalung ini pemberian nenek ketika aku lahir. Ayah pernah mengatakan kalau kalung ini sangat berarti buat nenek. Aku semakin bingung, apa ada hubungannya nenek dengan Mutiara, apakah kalung yang aku gunakan adalah milik Mutiara. Astaga, semua pertanyaan itu memenuhi otakku. Tiara, apakah Tiara itu adalah Mutiara?. Gadis yang di foto bersama nenek itu apakah dia?..

Malam harinya aku tidak bisa tidur, aku terus memikirkan isi dari buku harian itu dan kalung yang aku gunakan ini. Kucoba memejamkan mata, karena malam sudah larut. Keesokan harinya aku beranikan diri untuk bertanya pada nenek. Aku tidak menceritakan yang aku alami pada nenek. Aku hanya bertanya darimana nenek mendapatkan kalung yang aku gunakan ini.

Nenek memulai ceritanya, mata nenek berkaca-kaca,

“ kalung itu sangat berarti bagi nenek. Kalung itu adalah milik sahabat nenek yang bernama Tiara, dia adalah orang yang ada di foto itu. Nama lengkapnya adalah Mutiara. Mutiara adalah sahabat sekaligus saudara bagi nenek. Saat nenek lulus dari SMA, nenek di titipkan oleh eyang buyutmu kepada ibunya Tiara. Beliau harus memulai usahanya di Kota dan tidak memungkinkan untuk mengajak nenek ikut serta. Ibunya Tiara adalah sahabat eyang buyutmu. Aku diterima sebagai anak oleh ibunya Tiara. Sejak itu kami tinggal bersama dan menjadi sahabat. Tiara adalah seorang gadis yang sangat baik dan ceria. Setiap harinya selalu dihiasi dengan keceriaan. Hingga pada suatu hari, nenek mengetahui kalau dia dalam keadaan sakit. Kanker stadium akhir yang dia derita tak membuatnya menjadi terpuruk. Nenek sangat sedih mendengarnya. Namun, dia mempunyai semangat hidup yang luar biasa. Ada yang harus dia tunggu saat itu. Entah siapa yang dia tunggu itu, dia tidak pernah menceritakan siapa dia hanya saja dia mengatakan kalu orang itu adalah orang yang sangat spesial. Dia juga menceritakan tentang bukit misteri yang hanya dia dan seseorang itu yang tau. Dia selalu bahagis jika menceritakan orang itu. Sampai pada suatu hari, dia berdandan rapid an kelihatan sangat bahagia. Dia bilang bahwa hari itu tepat tiga tahun perpisahan mereka dan hari itu mereka akan bertemu. Dengan muka pucat dia berangkat menuju bukit, dia menolak untuk nenek antar. Beberapa jam kemudian dia kembali, dengan wajah yang sedih. Dia memeluk nenek, katanya orang yang dia tunggu selama ini tidak datang menemuinya. Dia langsung masuk kamar. Seminggu kemudian, Tiara keluar dengan wajah pucat. Entah dia hendak kemana, nenek tidak tau. Beberapa saat kemudian, dia pulang dengan wajah yang bahagia. Nenek berpikir kalau dia sudah bertemu dengan orang yang dia tunggu. Dia memeluk nenek, kemudian masuk ke kamarnya. Nenek melihat air matanya dia menetes. Itu adalah senyum, pelukan, dan air mata terakhir yang bisa nenek lihat darinya. Keesokan harinya Tiara berpulang kepangkuan Yang Kuasa. Itu adalah hari yang sangat sedih buat nenek. Malam harinya, dia sempat memberikan nenek kalung yang kamu pakai itu. Katanya, nenek harus menjaganya dengan baik sampai suatu saat kalung itu akan menemukan jalannya untuk bertemu dengan kuncinya. Itu adalah saat-saat terakhir bersama Tiara.” Air mata nenek bercucuran mengakhiri kisah memilukan itu. Nenek tak kuasa menyimpan kesedihannya. Rasa kehilangan sahabat terbaik. Usai bercerita nenek langsung masuk kamar dan tidak lupa berpesan kepadaku untuk menjaga kalung Tiara baik-baik.

Aku sangat sedih mengingat cerita nenek. Ternyata sekarang adalah saatnya kalung ini menemui jalannya melalui aku. Aku harus melalukan sesuatu, mungkin ada suatu pesan yang belum tersampaikan. Aku kembali membuka lembaran yang belum sempat aku baca dari buku harian nenek Tiara. Ternyata, buku harian ini telah terkubur selama 50 tahun lebih di dalam tanah. Bersama setiap kesedihan dan kepiluan hidup nenek Tiara. Aku harus menyelesaikan kisah ini, mungkin itu adalah tugasku. Kubaca lanjutann kisah ini,

Hari itu adalah hari yang sangat ku nanti Di,,

Aku akan bertemu denganmu,, setelah tiga tahun kita terpisahkan.. aku datang ke bukit misteri kita Di.. tetapi,, kamu tidak datang..

Apa kamu lupa??,, tapi itu pasti tidak mungkin.. kamu mungkin terlambat.. aku terus menunggumu..

Keesokan harinya, aku datang kembali lagi, berharap bisa bertemu denganmu..

Sampai aku melihatmu dari kejauhan.. kamu tidak sendiri Di,, kamu bersama seorang gadis..

Dia memelukmu Di, aku bersembunyi. Rasanya aku tidak sanggup melihatnya. Dia pasti orang yang kamu cintai. Kamu terlihat sangat bahagia. Aku juga tidak menyangka kamu akan membawanya ke bukit misteri kita.

Aku bahagia melihatmu bahagia Di,, maaf aku tidak bisa menemuimu. Rasanya aku tidak akan sanggup mendengar kamu memperkenalkannya padaku..

Aku bahagia Di,, melihatmu bahagia bersamanya.. aku tidak mau kamu tau apa yang aku rasakan.. biarkan rasa ini akan aku bawa di keabadian ku.. aku berharap kita akan dipertemukan dilain kehidupan..

Aku sayang padamu Di..

Jika buku ini kamu temukan, mungkin kamu sudah bahagia dan maafkan serta ikhlaskan aku. Aku pasti sudah kembali ke sisinya. Selamat tinggal Ardi…

 

            Keesokan harinya, aku pergi ke bukit itu. Aku berharap bisa bertemu dengan seseorang yang sangat nenek Tiara sayangi. Kata nenek, bulan ini adalah bulan dimana nenek Tiara kembali ke sisi- Nya. Aku sangat terkejut, di sana ku lihat sosok pria tua. Wajahnya terlihat sangat murung. Usianya mungkin sudah berkepala lima lebuh. Tidak salah lagi itu pasti Ardi, sosok yang ada dalam buku harian itu. Mukanya lesu seperti memikirkan sesuatu. Gerak-geriknya menunjukkan Dia sedang menunggu seseorang. Aku mendekatinya, dia sangat terkejut dan langsung memanggil nama Tiara.

“Tiara, apakah itu kamu??..” dia menatapku dengan sedikit menerawang. Sepertinya penglihatannya kurang normal.

“bukan kek, aku Nila. Aku cucu dari sahabatnya nenek Tiara.”

“mana Tiara?.” Dia bertanya kepada ku.

Aku tidak menjawabnya, aku hanya memberikan buku harian itu kepadanya. Dia kemudian membaca lembar demi lembar buku harian itu. Air matanya bercucuran. Dia bersimpuh sambil menangis. Dia terus menyebut nama Tiara. Aku ikut menangis melihatnya. Kucoba untuk menenangkan hatinya. Dia terlihat sangat sedih, mulutnya terus menyebut nama yang sama. Aku melihat ada suatu perasaan lain yang lebih dari hanya kehilangan seorang sahabat.

Setelah mulai tenang, dia menceritakan semua tentang apa yang dia pendam selama ini,

“ Tiara adalah gadis yang sangat berarti untukku. Dia mengajariku arti sebuah kehidupan. Dari awal pertemuanku aku sudah menyukainya. Aku tidak berani mengungkapkannya karena takut akan merusak persahabatan kami. Saat kami berpisah aku sangat sedih, tapi aku menyembunyikannya. Aku memberikannya hadiah kalung. Tiga tahun kami berpisah, tidak pernah aku tidak memikirkannya. Saat aku kembali, aku telat datang ke bukit itu. Mungkin itu kesalahanku. Keesokannya, aku datang bersama anak sahabat bapakku. Aku tidak bisa menolak, karena dia ikut untuk liburan. Tetapi, Tiara harus tau tidak ada yang bisa menggantikannya di hatiku. Aku sangat menyayanginya. Aku mencintainya, dia cinta pertamaku. Dia tidak pernah datang. Tiap minggu aku datang untuk mencarinya, sampai hari ini di bulan yang sangat spesial. Yaitu, bulan dimana pertama kali kami bertemu. Dia tidak pernah datang, dia hanya datang dalam mimpiku. Tersenyum di tempat ini. Aku takut terjadi apa-apa padanya, dan ternyata dia sudah pergi..hiks..hiks..” isak tangis mengiringi akhir dari cerita kakek Ardi. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia terus menangis.

Kuberikan kalung itu padanya, dia kemudian membuka bandul kalung yang berbentuk hati itu dengan sebuah kunci yang tergantung di gelangnya. Betapa terkejutnya, ketika foto yang terpajang di dalamnya adalah foto dirinya sendiri. Kakek Ardi menangis dan berteriak memanggil nama Tiara. Sebuah kisah yang sangat haru yang pernah aku lihat. Ini adalah cerita yang sanagat menyayat hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: