fatma19

best friends forever..

HDP

Harapan dibalik purnama (kisah lama)

 

“feb, cariin aku pacar dong.. hee..!!”
ucapnya berlagak polos, dengan tampang memelas.

“aduh-aduh, kamu nih.. pacar aja dipikirin lagi banyak tugas kita nih..”

“kamu nih, kayak gag tau aja. Namanya juga cowok..”

“yeee,, kenapa emang kalo cowok?? “

“hampa tau kalo gag ada cewek, hee..”

“denger ya, jangan suka nyakitin hati cewek ntar kamu kena batunya. Dasar playboy cap teri lho..hahaha..”

‘bukan nyakitin feb, emang sekarang lagi kosong nih. Hampa kalo gag punya pacar,hee..”

“iyaa, kamu emang kayak gitu sh.. hee.. temen-temen ku uda pada punya pacar semua ga ada yang jomblo..”

“kamu juga pasti uda punya pacar kan, feb?? uda besar sekarang kamu yah..”
ucapannya membuatku terdiam, bukan terdiam sedih tapi malah tertawa didalam hati. Pertanyaan yang sangat lucu bagiku.

“hmm.. itu sih rahasia gue,, yang jelas sih gue belum saatnya punya pacar.. haaha..”

Begitulah Erwin, temanku yang baik dan selalu membuatku tertawa. Setiap dia sms aku selalu tersenyum, sms yang dia kirim persis seperti sms yang dikirim oleh seorang cowok kepacarnya. Itulah uniknya dia, setiap mengirim sms keteman-temannya selalu dengan kata-kata yang romantis. Jadi, aku gag bakal heran jika tiba-tiba orang berfikir kami pacaran. Semua tentangnya mengingatkanku pada seseorang.. temanku memandang purnama yang sama ditempat yang berbeda. Dulu pesannya selalu sampai padaku, mengajak melihat purnama itu,, entahlah,, sekarang semua berbeda.

Malam ini langit bersinar begitu terangnya. Bintang-bintang bertaburan menyinari setiap sudut di hamparan dunia. Tidak mau dikalahkan oleh sang bintang, rembulan menunjukkan sinar yang luar biasa. Malam ini terasa begitu lengkap karena bulan yang purnama. Aku duduk sambil menatap langit, subhanallah aku terpesona. Bulan, bintang dan langit bersatu membentuk pemandangan yang menakjubkan. Membuat kagum setiap orang yang bisa merasakan getaran keindahan itu. Dulu waktu aku masih kecil, aku mendengar dari orang-orang, kalau dibulan itu tinggal seorang nenek. Tiap malam, nenek itu selalu menjahit. Percaya atau tidak, setiap aku melihat kebulan aku melihat persis seperti ada nenek-nenek yang sedang menjahit. Tapi, itu mungkin hanya imajinasi anak usia lima tahun. Sekarang, aku sudah kuliah sepertinya tidak wajar bagi orang-orang kalau aku masih mempercayai hal itu. Tapi, sepertinya hal itu wajar saja bagiku. Sampai sekarang aku masih suka berhayal melihat nenek-nenek sedang menjahit dibulan. Memang kedengarannya lucu, tapi itulah aku. Sangat susah bagiku untuk menghilangkan sifat kekanak-kanakanku diusiaku yang sudah berkepala dua. Tapi, aku tetap bahagia dengan diriku sendiri.

Malam ini memang membuatku merasa kembali kedalam khayalan kisah-kisah indah yang telah aku lalui. Kisah yang aku jadikan sebagai kenangan yang masih bisa muncul dalam ingatanku. Malam purnama, memulai ingatanku kembali kedalam kisah persahabatan kita dulu. Masa dimana aku masih bebas memanggilmu teman terbaikku. Meski mungkin jauh didalam jiwaku lebih dari itu. Namun, semua harus kututupi demi sebuah keadaan. Bayanganmu serasa berada dibundaran bulan yang aku tatap malam ini. Bagaimana kamu disana. . kesalahanku yang terlalu cepat menempatkan perasaan itu harus membuatku kehilangan saat-saat terindah saat aku bisa berbagi suka dan duka padamu meski dalam ligkaran persahabatan. Bagiku, bertutur cerita padamu membuatku merasa memiliki semangat yang lebih dari sebelumnya. Setiap perkataan dan motivasi yang dia berikan membangun pondasi dalam jiwaku untuk tetap positif dalam menghadapi kehidupan.

Dia ibarat kata yang selalu ingin aku ucapkan tiap aku berbicara.

Dia nada yang selalu ingin aku dendangkan tiap aku bernyanyi.

Tawanya membuatku sadar betapa indahnya dunia ini jika ada kebersamaan.

Senyumnya mampu menciptakan pelangi dalam mendung.

Entah mengapa tiap candanya selalu membuatku bahagia.

Aku mengenalnya dari tiupan angin lara. Dia muncul dari jerami kekusutan.

Tiada kusangka hadirnya akan membawa tawa lebar dalam cerita hidupku.

Dia lucu, dia manis.

Mungkin sampai sekarang kita masih memandang langit dan purnama yang sama. Kata yang sempat kusampaikan biarkanlah berlalu bersama angin, biarkan semua mengalir bersama air. Kuutarakan doa untukmu, meski dulu pesan mu selalu sampai padaku memberitahu kepadaku untuk menatap purnama yang indah, namun meski kini semua sudah tak ada lagi bersama pesan, terkadang harapan itu masih sama. Purnama kita masih sama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: